Minggu, 31 Agustus 2008

Sungai Jodoh

Pada suatu masa di pedalaman pulau Batam, ada sebuah desa yang didiami seorang gadis yatim piatu bernama Mah Bongsu. Ia menjadi pembantu rumah tangga dari seorang majikan bernama Mak Piah. Mak Piah mempunyai seorang putri bernama Siti Mayang. Pada suatu hari, Mah Bongsu mencuci pakaian majikannya di sebuah sungai. “Ular…!” teriak Mah Bongsu ketakutan ketika melihat seekor ulat mendekat. Ternyata ular itu tidak ganas, ia berenang ke sana ke mari sambil menunjukkan luka di punggungnya. Mah Bongsu memberanikan diri mengambil ular yang kesakitan itu dan membawanya pulang ke rumah.

Mah Bongsu merawat ular tersebut hingga sembuh. Tubuh ular tersebut menjadi sehat dan bertambah besar. Kulit luarnya mengelupas sedikit demi sedikit. Mah Bongsu memungut kulit ular yang terkelupas itu, kemudian dibakarnya. Ajaib… setiap Mah Bongsu membakar kulit ular, timbul asap besar. Jika asap mengarah ke Negeri Singapura, maka tiba-tiba terdapat tumpukan emas berlian dan uang. Jika asapnya mengarah ke negeri Jepang, mengalirlah berbagai alat elektronik buatan Jepang. Dan bila asapnya mengarah ke kota Bandar Lampung, datang berkodi-kodi kain tapis Lampung. Dalam tempo dua, tiga bulan, Mah Bongsu menjadi kaya raya jauh melebih Mak Piah Majikannya.

Kekayaan Mah Bongsu membuat orang bertanya-tanya.. “Pasti Mah Bongsu memelihara tuyul,” kata Mak Piah. Pak Buntal pun menggarisbawahi pernyataan istrinya itu. “Bukan memelihara tuyul! Tetapi ia telah mencuri hartaku! Banyak orang menjadi penasaran dan berusaha menyelidiki asal usul harta Mah Bongsu. Untuk menyelidiki asal usul harta Mah Bongsu ternyata tidak mudah. Beberapa hari orang dusun yang penasaran telah menyelidiki berhari-hari namun tidak dapat menemukan rahasianya.

“Yang penting sekarang ini, kita tidak dirugikan,” kata Mak Ungkai kepada tetangganya. Bahkan Mak Ungkai dan para tetangganya mengucapkan terima kasih kepada Mah Bongsu, sebab Mah Bongsu selalu memberi bantuan mencukupi kehidupan mereka sehari-hari. Selain mereka, Mah Bongsu juga membantu para anak yatim piatu, orang yang sakit dan orang lain yang memang membutuhkan bantuan. “Mah Bongsu seorang yang dermawati,” sebut mereka.

Karena merasa tersaingi, Mak Piah dan Siti Mayang, anak gadisnya merasa tersaingi. Hampir setiap malam mereka mengintip ke rumah Mah Bongsu. “Wah, ada ular sebesar betis?” gumam Mak Piah. “Dari kulitnya yang terkelupas dan dibakar bisa mendatangkan harta karun?” gumamnya lagi. “Hmm, kalau begitu aku juga akan mencari ular sebesar itu,” ujar Mak Piah.

Mak Piah pun berjalan ke hutan mencari seekor ular. Tak lama, ia pun mendapatkan seekor ular berbisa. “Dari ular berbisa ini pasti akan mendatangkan harta karun lebih banyak daripada yang didapat oleh Mah Bongsu,” pikir Mak Piah. Ular itu lalu di bawa pulang. Malam harinya ular berbisa itu ditidurkan bersama Siti Mayang. “Saya takut! Ular melilit dan menggigitku!” teriak Siti Mayang ketakutan. “Anakku, jangan takut. Bertahanlah, ular itu akan mendatangkan harta karun,” ucap Mak Piah.

Sementara itu, luka ular milik Mah Bongsu sudah sembuh. Mah Bongsu semakin menyayangi ularnya. Saat Mah Bongsu menghidangkan makanan dan minuman untuk ularnya, ia tiba-tiba terkejut. “Jangan terkejut. Malam ini antarkan aku ke sungai, tempat pertemuan kita dulu,” kata ular yang ternyata pandai berbicara seperti manusia. Mah Bongsu mengantar ular itu ke sungai. Sesampainya di sungai, ular mengutarakan isi hatinya. “Mah Bongsu, Aku ingin membalas budi yang setimpal dengan yang telah kau berikan padaku,” ungkap ular itu. “Aku ingin melamarmu dan menjadi istriku,” lanjutnya. Mah Bongsu semakin terkejut, ia tidak bisa menjawab sepatah katapun. Bahkan ia menjadi bingung.

Ular segera menanggalkan kulitnya dan seketika itu juga berubah wujud menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa. Kulit ular sakti itu pun berubah wujud menjadi sebuah gedung yang megah yang terletak di halaman depan pondok Mah bongsu. Selanjutnya tempat itu diberi nam desa “Tiban” asal dari kata ketiban, yang artinya kejatuhan keberuntungan atau mendapat kebahagiaan.

Akhirnya, Mah Bongsu melangsungkan pernikahan dengan pemuda tampan tersbut. Pesta pun dilangsungkan tiga hari tiga malam. Berbagai macam hiburan ditampilkan. Tamu yang datang tiada henti-hentinya memberikan ucapan selamat.

Dibalik kebahagian Mah Bongsu, keadaan keluarga Mak Piah yang tamak dan loba sedang dirundung duka, karena Siti Mayang, anak gadisnya meninggal dipatok ular berbisa.

Konon, sungai pertemuan Mah Bongsu dengan ular sakti yang berubah wujud menjadi pemuda tampan itu dipercaya sebagai tempat jodoh. Sehingga sungai itu disebut “Sungai Jodoh”.

Moral : Sikap tamak, serakah akan mengakibatkan kerugian pada diri sendiri. Sedang sikap menerima apa adanya, mau menghargai orang lain dan rela berkorban demi sesama yang membutuhkan, akan berbuah kebahagiaan.

Sumber : Elexmedia

Keong Emas

Raja Kertamarta adalah raja dari Kerajaan Daha. Raja mempunyai 2 orang putri, namanya Dewi Galuh dan Candra Kirana yang cantik dan baik. Candra kirana sudah ditunangkan oleh putra mahkota Kerajaan Kahuripan yaitu Raden Inu Kertapati yang baik dan bijaksana.

Tapi saudara kandung Candra Kirana yaitu Galuh Ajeng sangat iri pada Candra kirana, karena Galuh Ajeng menaruh hati pada Raden Inu kemudian Galuh Ajeng menemui nenek sihir untuk mengutuk candra kirana. Dia juga memfitnahnya sehingga candra kirana diusir dari Istana ketika candra kirana berjalan menyusuri pantai, nenek sihirpun muncul dan menyihirnya menjadi keong emas dan membuangnya kelaut. Tapi sihirnya akan hilang bila keong emas berjumpa dengan tunangannya.

Suatu hari seorang nenek sedang mencari ikan dengan jala, dan keong emas terangkut. Keong Emas dibawanya pulang dan ditaruh di tempayan. Besoknya nenek itu mencari ikan lagi dilaut tetapi tak seekorpun didapat. Tapi ketika ia sampai digubuknya ia kaget karena sudah tersedia masakan yang enak-enak. Sinenek bertanya-tanya siapa yang memgirim masakan ini.

Begitu pula hari-hari berikutnya sinenek menjalani kejadian serupa, keesokan paginya nenek pura-pura kelaut ia mengintip apa yang terjadi, ternyata keong emas berubah menjadi gadis cantik langsung memasak, kemudian nenek menegurnya " siapa gerangan kamu putri yang cantik ? " Aku adalah putri kerajaan Daha yang disihir menjadi keong emas oleh saudaraku karena ia iri kepadaku " kata keong emas, kemudian candra kirana berubah kembali menjadi keong emas. Nenek itu tertegun melihatnya.

Sementara pangeran Inu Kertapati tak mau diam saja ketika tahu candra kirana menghilang. Iapun mencarinya dengan cara menyamar menjadi rakyat biasa. Nenek sihirpun akhirnya tahu dan mengubah dirinya menjadi gagak untuk mencelakakan Raden Inu Kertapati. Raden Inu Kertapati Kaget sekali melihat burung gagak yang bisa berbicara dan mengetahui tujuannya. Ia menganggap burung gagak itu sakti dan menurutinya padahal raden Inu diberikan arah yang salah. Diperjalanan Raden Inu bertemu dengan seorang kakek yang sedang kelaparan, diberinya kakek itu makan. Ternyata kakek adalah orang sakti yang baik Ia menolong Raden Inu dari burung gagak itu.

Kakek itu memukul burung gagak dengan tongkatnya, dan burung itu menjadi asap. Akhirnya Raden Inu diberitahu dimana Candra Kirana berada, disuruhnya raden itu pergi kedesa dadapan. Setelah berjalan berhari-hari sampailah ia kedesa Dadapan Ia menghampiri sebuah gubuk yang dilihatnya untuk meminta seteguk air karena perbekalannya sudah habis. Tapi ternyata ia sangat terkejut, karena dari balik jendela ia melihatnya tunangannya sedang memasak. Akhirnya sihirnya pun hilang karena perjumpaan dengan Raden Inu. Tetapi pada saat itu muncul nenek pemilik gubuk itu dan putri Candra Kirana memperkenalkan Raden Inu pada nenek. Akhirnya Raden Inu memboyong tunangannya keistana, dan Candra Kirana menceritakan perbuatan Galuh Ajeng pada Baginda Kertamarta.

Baginda minta maaf kepada Candra Kirana dan sebaliknya. Galuh Ajeng mendapat hukuman yang setimpal. Karena takut Galuh Ajeng melarikan diri kehutan, kemudian ia terperosok dan jatuh kedalam jurang. Akhirnya pernikahan Candra kirana dan Raden Inu Kertapatipun berlangsung. Mereka memboyong nenek dadapan yang baik hati itu keistana dan mereka hidup bahagia.

Sabtu, 30 Agustus 2008

“Rick!! Tunggu!”

Ricky menoleh, lalu melanjutkan langkahnya. Aku mengejarnya dan menarik tangannya.

“Apa sih?”
“Kok kamu ga tunggu aku? Aku pengen pulang bareng kamu.”
“Maaf, aku buru-buru.”
“Buru-buru? Tiap hari juga buru-buru.”
“Maaf, Vel.”
“Ya udah! Terserah kamu!”
Aku pergi meninggalkan Ricky, berharap ia mengejarku. Tapi aku salah! Panggilan darinya pun tak kudengar.

***

“Hai, Vel, malam ini ada acara?” Aku sedang berbicara di telepon dengan selingkuhanku.
“Hm.. Nggak.”
“Ketemuan yuk di cafe. Mau?”
“Boleh.”
“Aku tunggu jam 7 ya. Bisa?”
“Ok. Bye, Ram..” Aku menutup telepon.

Namanya Rama. Aku mengenalnya lewat chatting. Dia baik, perhatian, dan tentu saja keren. Dia mencintaiku. Dia tahu aku sudah punya pacar tapi dia tetap ingin jadi pacarku. Kebetulan aku dan Ricky sudah agak menjauh, jadi tidak ada salahnya mencoba untuk selingkuh walau kutahu itu tidak baik. Siapa tahu saja suatu hari nanti Ricky akan memutuskan hubungannya denganku, aku masih punya pacar cadangan.

***

Sampai di cafe, kami memesan makanan dan kami makan sambil berbincang-bincang.
“Vel, aku senang bisa sedekat ini sama kamu. Gak terasa kita sudah jalan 3 bulan. Kamu senang?”
“Aku senang banget.”
“Vel, jujur aku pengen banget memiliki kamu seutuhnya.”
Aku terdiam.
“Aku tahu kamu ga mau putusin Ricky. Tapi sampai kapan pun aku akan tetap menunggumu.”

“Makasih ya, Ram, kamu mau nunggu aku.”
“Kamu lebih mencintai dia?”
“Aku juga tidak tahu. Yang kutahu, aku selalu merasa bahagia berada di dekat kamu. Kamu perhatian, romantis, dan selalu ada untukku. Jauh berbeda dengan Ricky.”
“Itu berarti kamu sudah bisa memilih, Vel.”
Aku tersenyum mantap walaupun dalam hati masih ada perasaan ragu.

***

“Ricky!”
Seperti biasa, dia hanya menoleh lalu melangkah pergi.
“Ricky!!” Aku menahan tangan kanannya.
“Apa sih, Vel?”
“Aku mau ngomong sama kamu.”
“Aku buru-buru, Vel.”
“Gak lama kok. Aku cuma mau bilang kalo aku minta putus!”
Dengan raut wajah tak percaya, Ricky menatapku. Lalu dengan cepat ia menarik tanganku ke salah satu bangku di lapangan parkir.

“Apa kamu bilang?”
“Aku minta putus, Ricky,” aku mengulang.
“Kenapa??”
“Kenapa? Bukannya itu yang kamu inginkan? Sudahlah! Aku tahu kamu ga cinta lagi sama aku. Setiap hari kamu ga pernah mau ada di dekat aku. Kamu selalu menghindar. Aku capai! Daripada aku sakit hati, lebih baik aku yang putusin kamu lebih dulu. Jadi kamu ga usah susah-susah lagi putusin aku. Sudah ya, aku buru-buru. Semoga kamu bahagia tanpa aku.”
Aku meninggalkan Ricky tanpa menunggu jawabannya. Sekarang hatiku lega bercampur sedih.

***

“Selamat ulang tahun, Sayang.”
“Makasih.”
“Udah siap pergi?”
“Yap!”
Hari ini aku berulang tahun. Rama mengajakku makan malam di sebuah restoran mahal dengan pemandangan laut yang indah. Rama memang sangat romantis, benar-benar tipe pria idamanku. Aku merasa beruntung telah memilihnya menjadi kekasihku.
“Sayang, aku senang kamu ajak aku makan di sini. Bagus banget pemandangannya.”
“Aku senang kalau kamu senang. Vel, makasih ya kamu mau jadi pacar aku sepenuhnya.”
“Aku yakin ini keputusan yang tepat.”
Rama tersenyum.
“Vel, aku ke WC dulu ya. Titip HP-ku.”
“OK.”
Rama pergi. Aku kembali menikmati pemandangan di sini. Benar-benar indah.

‘Rrrr….’

HP Rama bergetar. Aku mengambilnya lalu kulihat layar HP Rama. Tertulis di sana ‘Sayangku calling.’ Aku tercengang. Sayangku?? Sayangnya Rama kan cuma aku. Lalu siapa ini? Dengan hati berdebar-debar kuangkat telepon itu.

“Sayang, kamu di mana sih?” suara manis dan centil terdengar di telingaku.
“Kamu lagi jalan sama Veli ya?”
Kok dia tahu aku??
“Ha.. Halo,” aku memberanikan diri untuk mengeluarkan suara.
“Uups. Ini siapa?” jawabnya.
“Veli,” jawabku singkat.
“Oh, Veli. Maaf ya aku ganggu kamu.”
“Kamu siapa?”
“Aku.. Aku…”
“Ayo jawab! Kamu siapa?” aku sedikit membentak.
“Aku pacar Rama,” jawabnya. Bisa kudengar suaranya agak bergetar.
“Pacar? Aku pacarnya Rama!”
“Ehm.. Maaf ya, Vel, aku ga bermaksud menyakiti kamu. Tapi kurasa aku harus membuka semuanya sekarang.”
“Ada apa sih?”
“Aku jadian sama Rama udah hampir 3 bulan.”
“Hah? Jadi?”
“Aku benar-benar minta maaf.”
“Kamu tahu dia jalan sama aku?”
“Ya. Aku tahu.”
“Kenapa kamu ga marah?”
“Kenapa aku harus marah? Toh Rama cuma…. Oops..!”
“Cuma.. Cuma apa?”
“Cuma mainin kamu.”
“Kenapa???”
Aku mulai menangis.
“Karena kamu sangat polos. Kamu mudah dibohongi. Rama hanya ingin main-main. Dia tidak pernah serius sama kamu. Dia cuma menginginkan tubuhmu.”
“APA???!!”
“Maaf, Vel.”
Aku menutup telepon. Rama datang menghampiriku. Tanpa basa-basi aku berdiri lalu menamparnya dengan keras. Tidak peduli semua orang memperhatikan kami.
“Aku sudah tahu semua kebejadan kamu! Aku gak nyangka otak kamu bisa sekotor itu!! Kita putus!!”
Aku berlari pulang sambil menangis.

***

Sampai di rumah.

“Sayang, ini tadi ada titipan dari Ricky. Kamu lagi berantem ya?”
“Nggak kok. Makasih, Ma, aku ke kamar dulu.” Aku mengambil kado itu lalu menuju kamarku.
Kubuka kado itu. Sebuah kotak musik. Kubuka perlahan dan muncul sepasang pengantin sedang berdansa diiringi alunan piano. Benda yang sangat kuimpikan sejak 3 bulan yg lalu. Di bawahnya ada secarik kertas. Kubuka dan kubaca…
‘Happy Birthday. Ini kotak musik yang kamu idamkan. Aku ingin ini menjadi kado spesial untukmu. Aku hargai keputusanmu untuk berpisah denganku. Maaf sudah membuatmu sedih selama ini. Tapi perlu kamu tahu, aku kerja part time untuk membelikanmu hadiah ini. Karena itulah aku selalu buru-buru sepulang sekolah. Semoga kamu bahagia tanpaku.’
Aku menangis.


Ketika Fatimah Menanggalkan Pakaian Kesombongan

Agustus 12th, 2008 by jurnalcahaya

Semasa hidupnya, Ali bin Abi Thalib dan istrinya, Fatimah Az-Zahra dapat saja hidup dengan mudah dan harta yang berlimpah. Karena mereka adalah putri dan menantu Nabi Muhammad SAW. Namun hal itu tidak pernah mereka lakukan.

Ada sebuah kisah mengenai suatu hari dimana Rasulullah datang mengunjungi Fatimah, dan mencari cucu-cucunya. Fatimah menjawab, “Pagi ini tidak ada sesuatu di rumah yang dapat dicicipi, sehingga Ali mengatakan, ’Saya akan pergi dengan keduanya ke rumah seorang Yahudi.”

Rasulullah kemudian menyusulnya dan melihat kedua cucunya sedang memainkan sisa kurma. Rasul bertanya, “Wahai Ali, mengapa engkau tidak menyuruh kedua anakku ini pulang sebelum mereka kepanasan?”

Ali menjawab, “Pagi ini tak ada sesuatu pun yang kami miliki di rumah. Bagaimana jika engkau duduk dulu, wahai Rasulullah, sampai aku mengumpulkan buah untuk Fatimah?”

Begitulah yang dilakukan Ali bin Abi Thalib, pejuang Islam yang perkasa. Ia tak segan menimba air untuk seorang Yahudi, dimana untuk setiap timba ia mendapat sebutir kurma. Setelah terkumpul cukup untuk ia dan keluarganya, ia pun kembali ke rumah.

Pernah satu hari, menurut cerita Imran bin Hushain, Fatimah muncul di depan Rasulullah dengan wajah kekuning-kuningan dan pucat akibat kelaparan. Rasulullah lalu berkata, “Mendekatlah Fatimah.”

Setelah itu beliau berdoa, “Ya Allah yang mengenyangkan orang yang lapar dan mengangkat orang yang jatuh, janganlah engkau laparkan Fatimah binti Muhammad.“

Imran bersaksi, “Darah tampak kembali di wajahnya dan hilanglah kekuning-kuningannya.”

***

Kesederhanaan hidup Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra adalah sesuatu yang dijaga, sebagai bentuk sikap istiqamah agar tidak mendewakan dunia. Rasulullah pun ikut terjun langsung menjaga akhlak keluarga buah hatinya.

Sebuah kisah datang dari Musa bin Ja’far, ketika Fatimah bertemu dengan ayahnya, mengenakan kalung. Segera ayahnya berpaling darinya. Fatimah pun memutuskan kalung itu, lalu melemparnya.

Gembira, Rasulullah pun berkata, “Wahai Fatimah, engkau adalah dariku.”

Tidak lama kemudian lewatlah seorang pengemis. Rasulullah memberikan kalung Fatimah kepadanya. Kemudian beliau berkata, ”Allah sangat marah kepada orang yang menumpahkan darahku dan menyakitiku lewat keturunanku.”

Memang sangat menyakitkan bagi Rasulullah, melihat Fatimah mengenakan perhiasan dunia, sementara masih banyak kaum muslim yang papa. Asma binti Umais pernah bercerita bahwa ia sedang berada di rumah Fatimah ketika Rasulullah masuk dan melihat kalung emas bertengger di leher Az-Zahra. Kalung tersebut diberikan oleh Ali.

Rasulullah langsung berkata, ”Anakku, janganlah engkau membuat orang-orang berkata, ’Fatimah binti Muhammad memakai pakaian kesombongan.” Fatimah langsung mencopot dan menjualnya hari itu juga. Hasil penjualannya ia gunakan untuk memerdekakan seorang budak wanita mukmin.

Rasulullah sangat gembira ketika berita itu sampai kepadanya.

***

Suatu hari Rasulullah sedang bepergian. Saat itu Ali baru mendapat ghanimah (harta rampasan perang), lalu membawanya ke Fatimah. Dua gelang perak diambil Az-Zahra, juga menggantungkan tirai di atas pintunya.

Salah satu kebiasaan Rasulullah ketika bepergian adalah selalu datang ke rumah Fatimah sebelum berangkat dan segera sesudah pulang. Maka begitu ia mendapati kedua gelang perak di tangan Fatimah saat pulang dari perjalanan, ia pun langsung beranjak pergi.

Fatimah menangis. Ia panggil Hasan dan Husein. Diberikannya gelang perak pada yang satu, dan tirai pada saudaranya, lalu dikirimnya mereka kepada sang ayah. Az-Zahra berpesan, ”Pergilah kalian ke tempat ayahku, ucapkan salam kepadanya dan katakan kepadanya, ’Kami tidak akan melakukannya lagi, dan ini kami serahkan kepadamu.”

Saat Rasulullah menerima pesan tersebut, ia pun mencium kedua cucunya, memeluknya, lalu mendudukkan mereka masing-masing di atas pahanya.

Lalu gelang perak itu dipotong-potong dan membagi-bagikannya pada sekelompok Muhajirin yang tak punya tempat tinggal dan harta. Sedangkan tirai dibagikan kepada orang-orang diantara mereka yang tidak berpakaian.

Kemudian Rasulullah berdoa, ”Allah mengasihi Fatimah. Sungguh ia akan memberinya pakaian surga dengan sebab tirai ini, dan akan memberinya perhiasan surga dengan sebab kedua gelang ini.”

***

Begitulah Rasulullah beserta keturunannya hidup. Dengan kesederhanaan, kebersahajaan, dan bahkan kemiskinan serta kelaparan. Bagaimana mereka bisa kenyang, sedangkan perut orang-orang miskin tak punya makanan sedikit pun. Bagaimana mereka bisa memakai perhiasan, sedangkan kaum muslim masih ada yang tidak berpakaian. Bagaimana mereka bisa memakaikan anak-anak mereka, Hasan dan Husein, perhiasan perak, sementara mereka mendengar rintihan kaum fakir. Sungguh akhlak dan kepekaan sosial yang begitu mulia. Melebihi indahnya perhiasan dunia.

*Tulisan dimuat pada Majalah Dian Al-Mahri edisi II, Agustus 2008
Who Are You?

Agustus 20th, 2008 by nja_nja

01.12 WIB

Drtttt….drttt….

1 message received

Kubuka paksa mataku yang sudah sangat ingin mengatup. Kugerayangi kasur tempatku merebahkan tubuh yang seharian penuh belum juga mendapatkan haknya untuk istirahat, mencari HP-ku.

“Mmmmhhh…. Siapa sich malem – malem gangguin orang?” Aku mengumpat sendiri. Kutatap layer HP-ku.

One message received.

Kuaktifkan tombol HP pemberian ayah ibuku saat aku berulang tahun di usia 17 tahun beberapa waktu yang lalu. Mataku tiba – tiba terbuka.

“Dia lagi…” gumamku. Kulihat si pengirim SMS tengah malam itu, tertera di layar HPku, Who R U?

Sudah hampir dua minggu aku terus dikirimi pesan–pesan singkat yang bikin aku penasaran. Setiap malam, dia mengirimkan puisi–puisi untukku. Awalnya kupikir paling hanya orang iseng dan nggak akan bertahan lama. Empat hari yang lalu aku bales smsnya dengan nada menyelidik, ‘Maf, sbnrny km tuh sp? Ap km gak slh krm sms?’. Tapi tidak ada balasan darinya. Tiap malam dia masih saja mengirim puisi–puisi itu.

Kubuka SMS itu, sebuah puisi lagi.

Snyum yg trukir dr bibirmu adl kt mesra…

Tntng rinduku pdmu yg trtnggl dlm mimpiQ…

Di bias senymmu yg mnwn, ad rs

Qsmpn…yg mekar seelok mwar…

Senymmu…

Spt mthr yg br trbt…

Bak plngi di bias ujung lngit…

Mlht senymmu…

Hdp mkn indh mknany…

Krn cnt brgma dr sdt jw…

Snymmu…

Bhs cnt yg indah…

Aku hanya tersenyum membaca SMS itu. Aku bergumam sendiri.

“Kalo dia nggak salah kirim SMS ini, mungkinkah….” Aku tak berani melanjutkan kata–kata. Rasa kantukku menyerang lagi. Aku benar–benar lelah. Seharian aku duduk mendengarkan pelajaran dari para pahlawan tanpa tanda jasa. Sepulangnya, aku harus menemani adikku yang masih berumur tiga tahun karena Ibu dan Bapak sedang menghadiri undangan pesta perrnikahan teman Bapak. Beberapa detik kemudian aku kembali ke dreamland, pulau mimpi.

***

“Mey, gimana?” Anin, sahabat sekaligus teman sebangkuku, memasang mimik penuh pertanyaan, dia penasaran.

“Gimana apaan?” Aku pura – pura tidak mengerti arah pembicaraannya. Kuambil buku paket Bahasa Inggris, sebuah buku tulis dan pulpen di atas meja.

“Dia…. Secret admirer-mu itu. Dia udah ngaku belum jati dirinya yang sebenarnya sama kamu? Terus, semalem kamu dapet puisi apa lagi?” Anin begitu bersemangat dengan kasusku yang satu ini. Mungkin karena dia sedikit berjiwa detektif, makanya dia mudah penasaran. Waktu pertama kali aku menceritakan kasusku ini, dia malah mengajukan diri untuk menyelidiki siapa sebenernya si pengirim SMS itu. Tapi aku tolak dengan alasan kalau SMS–SMS itu paling hanya akan bertahan selama dua–tiga hari. Saat itu dia tampak kecewa. Kecewa karena tidak bisa menjalankan aksinya bak Detektif Conan.

Kulirik dia sebentar. “Belum. Tadi malem dia ngasih puisi lagi. Baca aja!” Aku menyerahkan HPku pada Anin. Anin tampak serius dan menghayati isi puisi itu.

“Gila!! Bagus banget. Kayaknya ni orang suka sama kamu. Tapi, kemungkinan dia pemalu. Makanya, dia hanya berani menuliskan perasaannya lewat puisi–puisi itu…..” Anin kembali bergaya bak detektif. Aku hanya mendengarkan sambil membaca bacaaan yang ada di dalam buku paket Bahasa Inggris. Sesekali aku hanya menimpali dengan ucapan ‘Hmmm….’.

***

“Sebenernya, aku berharap sesuatu dari SMS–SMS itu.” Aku membuka pembicaraan. Aku dan Anin berada dalam angkot yang akan membawa kami pulang ke rumah.

“Maksudnya?” Anin bingung. Aku tersenyum melihatnya.

“Iya… Andai aja si pengirim puisi itu adalah…” Aku tidak melanjutkan kata–kataku. Entah kenapa aku merasa malu, takut. Takut kalau ada yang dengar dia menyebutkan nama itu.

“Adit maksudmu?” Anin blak–blakan menyebut nama yang sedari tadi aku tahan. Aku melotot ke arahnya. Aku kurang setuju aku membicarakannya di depan umum.

Sepertinya Anin tahu bahasa mataku. Buru–buru dia minta maaf padaku. “Ooppsss…. Maaf.” Anin nyengir kuda. Sebelum Anin kembali menjadi Detektif Conan, aku meletakkan jari telujukku di depan mulutku dan berdesis kecil. Anin pun diam.

Angkot terus melaju di jalan raya, membawa kami menuju rumah yang menanti kami. Ibu pasti sudah menungguku sambil menggendong Zahrana, adikku. Makanan lezat sudah memanggil–manggil perutku yang lapar. Sepanjang perjalanan kami hanya diam.

***

Tuuuuttt….. tuuuutt…..

“Hallo Nin…” Aku duduk di kasur sambil memegang HP. Aku menelepon Anin. Suara dari seberang kelihatannya masih malas–malasan menjawab teleponku.

“Mmm… ada apa Mey?”

“Aku cuma mau memberimu kesempatan.”

“Kesempatan apa?”

“Untuk jadi Detektif Conan.”

“Maksudnya??”

“Aku penasaran sama pengirim SMS itu. Kamu bisa kan cari tahu siapa dia???”

“Bereeeesss!!!!” Anin tiba – tiba sangat bersemangat. “Mey, sebenernya aku udah memulai misiku ini sehari setelah kamu nunjukkin SMS itu ke aku. Hehehe…. Tapi, waktu itu kamu melarangku. Jadi ya… terpaksa aku nggak ngasih tahu dulu. Rencananya aku mau kasih tahu kalau aku sudah tahu siapa ‘pelaku’nya.”

“Dasar!!!” Aku agak kesal tapi juga seneng.

“Terus hasilnya gimana??” Aku akhirnya penasaran juga. Anin memang berbakat jadi detektif. Beberapa bulan yang lalu, kasus pencurian dompet Siska, temen sekelas kami, juga berhasil diungkap olehnya.

“Mmmm…. Sekarang aku mencurigai tiga orang.”

“Siapa?” Aku tambah penasaran.

“Rangga, Doni, dan…..” Anin menggantungkan kata–katanya.

“Dan????”

“Adit.”

“Hhhhaaaaaahhh???!!!!!!! Koq dia juga?” Aku kaget sekaligus senang. Mungkinkah Adit yang selama ini mengirimkan puisi–puisi itu?”

“Iya. Penjelasannya nanti aku jelaskan di sekolah. Aku mau Shubuhan dulu nih… udah hampir jam setengah enam. Bye…” Klik.

Aku sungguh penasaran dengan analisis yang akan dia sampaikan.

***

Sudah lima hari berlalu sejak Anin menjelaskan analisisnya kepadaku. Dari ketiga ‘calon’ yang diajukan Anin, Rangga tergeser dari ‘finalis’ itu. Jadi, tinggal Adit dan Doni. Aku semakin deg–degan. Apa lagi Anin bilang belum menemukan petunjuk lagi tentang si Pengirim SMS itu.

Aku benar–benar penasaran dibuatnya. Sebelum pulang sekolah, Anin berkata padaku bahwa lusa akan mendapatkan hasilnya. Aku disuruhnya pergi ke café 1001 untuk mendapatkan jawabannya. Pukul tujuh malam aku harus sudah ada di café itu. Kalau tidak, dia akan merahasiakannya selamanya. Aku bener–bener penasaran dibuatnya.

***

07.02 WIB

Aku melangkahkan kakiku ke dalam café itu. Café 1001. Sudah lama aku tidak masuk ke café itu walau hanya sekedar minum jus apel kesukaanku. Aku mencari–cari sosok Anin. Tak juga aku lihat.

Drrttt…. Ddrrrrt…

1 message received

Kubuka sms itu. Dari Anin.

Mja no 25. Aq kebelet. Tgg aq sbntar.

Aku menggerutu sendiri. Dalam kondisi kayak gini masih sempet – sempetnya dia kebelet. Aku melangkahkan kakiku ke meja itu. Wait!!! Ada yang aneh di meja itu. Taplak mejanya beda dengan yang lain. Ada sekuntuk bunga mawar dimeja itu, juga selembar kertas. Kubuka SMS dari Anin lagi. Kuyakinkan kalau itu meja yang Anin maksud.

Walaupun masih merasa janggal, aku pun akhirnya duduk di meja itu. Seorang pelayan tiba–tiba mendekatiku dan memberikan segelas jus Apel.

“Mbak, saya kan belum pesan.” Pelayan itu hanya tersenyum lalu pergi meninggalkanku yang masih bingung.

Lima menit aku menunggu Anin, dia belum juga kelihatan. Sementara musik café itu terus menyanyikan lagu–lagu yang entah kenapa lain dari biasanya. Tiba–tiba aku dikejutkan oleh sebuah lagu. Dia merasa sangat mengenal lirik lagu itu.

Di bias senyummu yang menawan, ada rasa

Kusimpan…yang mekar seelok mawar…

Senyummu…

Seperti matahari yang baru terbit…

Bak pelangi di bias ujung langit…

Melihat senyummu…

Hidup makin indah maknanya…

Karena cinta bergema dari sudut jiwa…

Senyummu…

Bahasa cinta yang indah…

Itu kan syair puisi yang aku terima. Aku mencoba melihat siapa penyanyinya. Aku tidak berhasil melihatnya. Cahaya lampu dibuat sedikit gelap.

Tiba – tiba……

“Nisrina Meita Ayu…. Maukah kau memberi senyummu setiap hari untukku??” Aku kaget. Tanganku dingin. Aku sangat mengenal suara itu. Ya, suara orang yang aku sukai. Suara Adit.

Perlahan lampu di depan sana menjadi terang. Akhirnya aku dapat melihat siapa penyanyi itu. Dia …. Dia memang Adit. Adit??? Benarkah?? Apa aku tidak lagi bermimpi?? Aku memukul pipiku sendiri.

“Kamu nggak lagi mimpi koq Mey….” Anin tiba–tiba ada di sampingku.

“Anin….” Kulihat senyum Anin mengembang di bibirnya.

“Kamu pengen tahu jawabannya kan?? Dia jawabannya.” Anin menunjuk ke depan, menunjuk Adit.

Aku baru sadar kalau semua mata tertuju padaku. Aku kaget, bingung, seneng. Aduuh…. Aku harus gimana???

Adit mengulangi pertanyaannya sekali lagi. “Nisrina Meita Ayu…. Maukah kau memberi senyummu setiap hari untukku??” Kali ini dia berjalan mendekatiku.

Tanganku semakin dingin. Aku berusaha mengatur nafasku. Kukumpulkan segala keberanianku. Tepat beberapa senti di depanku, Adit berhenti. Dia memberiku senyuman.

Aku menatap Anin lalu bergantian menatap Adit. “Iya…” Hhhh….leganya. Aku tersenyum lagi. Aku mengulang kata–kataku. “Iya, aku mau. Aku mau.”

Adit tersenyum, aku juga tersenyum. Semua pengunjung bertepuk tangan, bersorak pada kami. Tapi, aku masih penasaran. Lalu Adit berbisik padaku. “Besok aku jelaskan. Sekarang, makan malamlah bersamaku.” Adit memperlakukanku bagai putri. Aku senang banget.

Hikayat Bunga Kemuning

Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana. Tetapi ia terlalu sibuk dengan kepemimpinannya, karena itu ia tidak mampu untuk mendidik anak-anaknya. Istri sang raja sudah meninggal dunia ketika melahirkan anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Puteri-puteri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka. Pertengkaran sering terjadi diantara mereka.

Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna. Puteri Sulung bernama Puteri Jambon. Adik-adiknya dinamai Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau, Puteri Kelabu, Puteri Oranye, Puteri Merah Merona dan Puteri Kuning, Baju yang mereka pun berwarna sama dengan nama mereka. Dengan begitu, sang raja yang sudah tua dapat mengenali mereka dari jauh. Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, Ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka bebergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.

Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua puteri-puterinya. "Aku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?" tanya raja. "Aku ingin perhiasan yang mahal," kata Puteri Jambon. "Aku mau kain sutra yang berkilau-kilau," kata Puteri Jingga. 9 anak raja meminta hadiah yang mahal-mahal pada ayahanda mereka. Tetapi lain halnya dengan Puteri Kuning. Ia berpikir sejenak, lalu memegang lengan ayahnya. "Ayah, aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat," katanya. Kakak-kakaknya tertawa dan mencemoohkannya. "Anakku, sungguh baik perkataanmu. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan hadiah indah buatmu," kata sang raja. Tak lama kemudian, raja pun pergi.

Selama sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas. Mereka sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka. Karena sibuk menuruti permintaan para puteri yang rewel itu, pelayan tak sempat membersihkan taman istana. Puteri Kuning sangat sedih melihatnya karena taman adalah tempat kesayangan ayahnya. Tanpa ragu, Puteri Kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu. Daun-daun kering dirontokkannya, rumput liar dicabutnya, dan dahan-dahan pohon dipangkasnya hingga rapi. Semula inang pengasuh melarangnya, namun Puteri Kuning tetap berkeras mengerjakannya.

Kakak-kakak Puteri Kuning yang melihat adiknya menyapu, tertawa keras-keras. "Lihat tampaknya kita punya pelayan baru,"kata seorang diantaranya. "Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!" ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Puteri Kuning diam saja dan menyapu sampah-sampah itu. Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang sampai Puteri Kuning kelelahan. Dalam hati ia bisa merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai perintah kakak-kakaknya.

"Kalian ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian. Bisanya hanya mengganggu saja!" Kata Puteri Kuning dengan marah. "Sudah ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!" ajak Puteri Nila. Mereka meninggalkan Puteri Kuning seorang diri. Begitulah yang terjadi setiap hari, sampai ayah mereka pulang. Ketika sang raja tiba di istana, kesembilan puteri nya masih bermain di danau, sementara Puteri Kuning sedang merangkai bunga di teras istana. Mengetahui hal itu, raja menjadi sangat sedih. "Anakku yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!" kata sang raja.

Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya. "Sudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning," kata Puteri Kuning dengan lemah lembut. "Yang penting, ayah sudah kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah," ucapnya lagi. Ketika Puteri Kuning sedang membuat the, kakak-kakaknya berdatangan. Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya. Tak ada yang ingat pada Puteri Kuning, apalagi menanyakan hadiahnya. Keesokan hari, Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri.

Ayah memberikannya padaku, bukan kepadamu," sahut Puteri Kuning. Mendengarnya, Puteri Hijau menjadi marah. Ia segera mencari saudara-saudaranya dan menghasut mereka. "Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. Kita harus mengajarnya berbuat baik!" kata Puteri Hijau. Mereka lalu sepakat untuk merampas kalung itu. Tak lama kemudian, Puteri Kuning muncul. Kakak-kakaknya menangkapnya dan memukul kepalanya. Tak disangka, pukulan tersebut menyebabkan Puteri Kuning meninggal. "Astaga! Kita harus menguburnya!" seru Puteri Jingga. Mereka beramai-ramai mengusung Puteri Kuning, lalu menguburnya di taman istana. Puteri Hijau ikut mengubur kalung batu hijau, karena ia tak menginginkannya lagi.

Sewaktu raja mencari Puteri Kuning, tak ada yang tahu kemana puteri itu pergi. Kakak-kakaknya pun diam seribu bahasa. Raja sangat marah. "Hai para pengawal! Cari dan temukanlah Puteri Kuning!" teriaknya. Tentu saja tak ada yang bisa menemukannya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil mencarinya. Raja sangat sedih. "Aku ini ayah yang buruk," katanya." Biarlah anak-anakku kukirim ke tempat jauh untuk belajar dan mengasah budi pekerti!" Maka ia pun mengirimkan puteri-puterinya untuk bersekolah di negeri yang jauh. Raja sendiri sering termenung-menung di taman istana, sedih memikirkan Puteri Kuning yang hilang tak berbekas.

Suatu hari, tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Sang raja heran melihatnya. "Tanaman apakah ini? Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih kekuningan dan sangat wangi! Tanaman ini mengingatkanku pada Puteri Kuning. Baiklah, kuberi nama ia Kemuning.!" kata raja dengan senang. Sejak itulah bunga kemuning mendapatkan namanya. Bahkan, bunga-bunga kemuning bisa digunakan untuk mengharumkan rambut. Batangnya dipakai untuk membuat kotak-kotak yang indah, sedangkan kulit kayunya dibuat orang menjadi bedak. Setelah mati pun, Puteri Kuning masih memberikan kebaikan.

Moral : Kebaikan akan membuahkan hal-hal yang baik, walaupun kejahatan sering kali menghalanginya.